By: Hs Same
Sebelum lanjut baca mohon maaf kepada para praktisi pendidikan, soalnya ada orang yang sok pintar mengatasi masalah bangsa yang sangat gaswat ini ”masalahnya aku udah ngga kuat menahan unek-unekku ini” and Mohon maaf juga buat temen-temen yang lulus UN, bukannya merendahkan kalian, aku hanya curhatkan kekesalanku pada diriku dan UN. Maap juga bagi para pembaca, tulisannya ngga pake bahasa baku “maksudnya biar nyante aja”
Pendidikan adalah ujung tombak dari semua permasalah yang membelenggu bangsa ini, BANGSA YANG CERDAS DAN BERPENDIDIKAN = SDM YANG BERKUALITAS = KEMAKMURAN BANGSA.” Setuju dong” .
Pendidikanpun, sebenarnya permasalan intinya pada satu muara “menurut ku ni coy” yaitu Monster yang biasa kita sebut dengan UN (ujian Nasional). 13 Juni 2009 pengumuman UN tingkat SMA/Sederajad telah diumumkan, Hasilnya rata-rata lebih dari 90% peserta didik seluruh Indonesia lulus ujian. Wow Mengesankan! Atau!!! Mengherankan??? Buat saya itu adalah sesuatu yang aneh bin ajaib! Betapa tidak UN yang mulai dijalankan pada tahun ajaran 2002/2003 sampai sekarang, setandart kelulusannya selalu ditingkatkan. Mulai dari (3,01),(4,01),(4,25) sampai sekarang (5,5), mata pelajaran yang diujikan pun tak main-main yang mulanya 3 mata pelajaran mulai dua periode yang lalu menjadi 6 mata pelajaran, tapi kenapa kok justru kelulusan terus meningkat, ini menimbulkan banyak pertanyaan dalam otak saya:
+ Apakah Siswa-siswi sekarang lebih rajin dan pandai?
+ Atau persiapan siswa dan guru lebih matang? Och Za? OR
Ada bocoran soal UN kali?
Atau ada tim sukses UN di tiap daerah?
Kualitas Soal menurun, apa iya ya?
Dukunnya hebat?
Kalau yang kaya gini apa siswa ngga akan semakin dibodohkan?
Berdasarkan pengalaman saya, awal UN dimunculkan tingkat kelulusan masih sangat rendah ”padahal standartnya masih rendah loe”. Puncaknya adalah pada UN tahun 2005/2006 kelulusan sekitar 80% saja, sehingga banyak siswa yang ngamuk-ngamuk ”termasuk aku,meskipun lulus”. Namun setelah itu, dengan standar kelulusan yang dinaikkan dan mata pelajaran yang bertambah banyak, tingkat kelulusan semakin naik tiap tahunnya ”Aneh kan”, anehnya lagi pada 2006 itu kenapa Diknas yang terhormat nekat naikkan standart, padahal tingkat kelulusankan menurun.
Sebenarnya banyak sekali kesalahan-kesalahan atau “pelanggaran-pelanggaran” yang dilakukan Diknas yang terhormat. “peraturan dibuat sendiri dilanggar sendiri boleh dong” (Wajib Baca pelanggaran: di http://antikorupsi.org/indo/content/view/3764/2/ atau Buku Fina.dkk, Lebih Asyik Tanpa UAN, LKis, Yogyakarta:2007)
Sebenarnya saya sebagai orang awam tidak menolak adanya UN, tapiiii yang saya tidak setuja atau tidak setuju adalah UN menjadi satu-satunya penentu kelulusan siswa. Ini kan mengakibatkan banyak hal, Misalken:
Peserta didik, guru dan Ortu mereka akan menghalalkan segala cara agar si Peserta didik lulus (Istighosah tiap minggu, berdoa tiap tengah malam, puasa, belajar dengan tekun dan tekun dan tekun ”awas setres”, cari dukun, cari kunci jawaban, santet pengawas, nyontek, nyogok pengawas dan lain-lain)
Kalau ngga lulus: Nangis, pingsan, bunuh diri, mabok, narkoba, stress/gila, putus harapan tuk ngelanjutin, kawin, banyak dech.
Tuh makin rusak anak bangsa kita!
Coba Solusi!
Nie aku coba solusi tuk UN: (awas bedakan lulus UN dan Lulus Sekolah)
UN harusnya hanya menjadi salah satu penentu kelulusan siswa, nah yang nentuin kelulusan UN siswa tetap pemerintah, tapi yang nentuin kelulusan sekolah siswa adalah bapak/ibu guru dong, artinya lulus UN belum tentu lulus Sekolah dan lulus sekolah belum tentu lulus UN tapi tetap lulus.”pahamkan?”. Nah manfaatnya adalah ketika tingkat kelulusan UN siswa suatu daerah atau sekolah itu rendah, tugas penerintah sekarang adalah memperhatiakan suatu daerah atau sekolah yang bersangkutan tersebut! Apa karena kurang fasilitas, atau guru-guru yang kurang berkualitas, ataukah kondisi sekolah yang kurang layak. Nah kalo gitukan ngga lama sekolah-sekolah di Indonesia jadi bisa standart ”bukannya menstandartkan nilai tanpa standart fasilitas!”, ngga seperti sekarang yang rusak makin rusak yang megah semakin megah.
Penentu utama peserta didik lulus sekolah adalah peserta didik itu sendiri. Bukannya ngga konsekuen, maksudnya gini: misalkan pada ujian terakhir sebagai syarat kelulusan, siswa diminta mempresentasikan dirinya dihadapan siswa dan guru-guru penguji/dewan juri (misal dari: wali kelas, guru dari sekolah lain, dari perguruan tinggi,dll ), Intinya adalah apa yang mengharuskan seorang siswa menjadi layak untuk diluluskan.
Contoh:
Saya adalah si tono, kelas…., umur saya….., saya adalah siswa yang…..(rajin/ pandai/ malas, dll) berdasarkan rapor saya pada kelas …. saya……. Dan kelas…. saya…..kemudian kelas…. saya….., saya juga memiliki prestasi sebagai berikut ……buktinya adalah……. Pada UN saya kemarin ….(lulus/tidak lulus) oleh karena itu saya layak untuk diluluskan/ tidak layak untuk diluluskan.
Nah sekarang adalah tugas “dewan Juri” merekapitulasi hasil presentasi siswa apakah si Jabang bayi Tono ini layak lulus sekolah atau tidak, kemudian akan di rekapitulasi kembali oleh wali kelasnya si Tono. saat pengumuman kelulusan semua hasil tersebut diserahkan kepada si Tono (hasil UN, rapor, penilaian juri dan hasil rekapitulasi wali kelas).
Manfaat lebihnya adalah siswa menjadi lebih aktif dalam berbicara didepan umum tanpa rasa grogi yang berlebihan, ngga seperti sekarang, ada berapa gelintir siswa yang memiliki mental baja didepan umum?“aku juga deng”. Selain itu Organisasi-organisasi EKSKUL juga Wajib hukumnya untuk lebik diaktifkan, soalnya kebanyakan mental baja siswa itu terbentuk disana.
UAS (Ujian Akhir Sekolah) tidak perlu dilaksanakan, cukup UAS (Ujian Akhir Semester),
Selain ngirit, UAS (Ujian Akhir Sekolah) hanya akan menjadi momok yang tidak berguna apabila dilaksanakan.
Cukup dech solusi 3 ajah!
Tutup!
Mungkin solusi diatas tidak dapat berjalan dengan mulus pada tahun-tahun pertama kedua, akan tetapi jangka panjangnya insyaallah bagus lah! Soalnyakan memang memerlukan persiapan-persiapan khusus. Harapannya adalah :
Siswa menjadi tidak perlu stress belajar lagi, karena UN bukan lagi menjadi factor penentu kelulusan belajar. Mereka juga bisa memilih mata pelajaran yang paling disukai, karena tidak ada tekanan lagi.”belajar masa dipaksa!”
Siswa bisa memiliki skill pada bidang tertentu, nantinyakan makin banyak tuh para siswa yang jadi juara olimpiade.”Soalnyakan mereka serius pada bidang yang paling diminati”
Proses belajar mengajar menjadi lebih menyenangkan. “sekali lagi ngga dibawah tekanankan!”
Kegiatan Ekskul lebih diaktifkan, kalo sudah aktif sekolah akan menjadi lebih hidup, soalnya siswa juga makin kreatif berkegiatan.
Dengan keaktifan siswa dalam organisasi, mereka dapat mengisi kekosongan waktu yang biasanya digunakan untuk melakukan sesuatu yang tidak berguna bahkan negative ”kaya tawuran, bikin preman, bikin gank, narkoba, dll”
Dengan pengalaman siswa berorganisasi, pada akhirnya mereka akan menjadi anak-anak bangsa yang siap terjun ke masyarakat dan lingkungan organisasi lain seperti perusahaan.
Sebenernya masih banyak yang pengin aku keluarin. Tapi masih menggumpal dalam otak nih, lagi pula kalo kebanyakan jadi males baca dech!
Mohon komennya ya temen-temen, n kalo ada tambahan solusi pendidikan boleh ditambahin kok!
Tray!
BalasHapus